Blog oleh Warga
Tong Sampah Berbunyi Garing

Inilah tong sampah, berbahan drum bekas, yang dirantai dan digembok itu. Mungkin supaya tidak dimaling.
© Foto: saya
Related posts:
- Daun di atas Bak Sampah Tidak, ini tidak natural. Saya sudah menggeser daun itu...
- Dua Wadah Sampah Kotak sampah di pelupuk mata tetap tampak, begitu pula...
- Nu Yok Maunya Mungkin seni atas nama tema ruang. Mungkin snobisme. Tapi...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Pot dan Tanaman

Pada meja sepi, dalam ruang sepi, yang disebut tempat resepsionis — di sana berjagalah Superman, manusia serbabisa. Di dalam hanya ada dua pria. Lainnya wanita, jumlahnya lebih banyak.
© Foto: saya
Related posts:
- Tangga Lipat Keistimewaan tangga lipat adalah hemat tempat — bandingkan dengan...
- Ruang Makan yang Sepi Setelah anak dan cucu selesai berlebaran, ruang makan ini...
- Warna Klepon Warna kedua benda ini mengingatkan saya pada masa kecil,...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Bikes at Work

Pada sebuah ruang tamu kantor. Berangkat atau pulang kerja boleh dengan maupun tanpa sepeda.
© Foto: saya
Related posts:
- Seli, si Sepeda Lipat Sepeda lipat di samping meja resepsionis sebuah kantor di...
- Bagasi Bisa untuk memboncengkan orang maupun barang. Tapi di Jakarta...
- Sepeda Berpompa Sepeda lama dengan pompa yang menempel pada dudukannya. Sebuah...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Keset karet di kloset
Intip rapat
Apa yang terjadi di balik pintu?
---
Sent from BaldBarky® Kamprèt™ BlackMarket Edition • Sinyaletoy Network
Meja seorang narablog
Di sinilah ayah dari seorang putra itu bergiat, supaya dianggap punya kantor. :)
---
Sent from BaldBerry® 2MP camera BlackMarket Edition • Sinyaletoy Network
100 Kata | Bahasa Indonesia yang Kadang Kita Tertawakan

“HP yang aneh,” gerutunya.
Dia canggung menggunakan ponsel baru yang bermenukan bahasa Indonesia. Ketika bahasa diubah ke Inggris maka semuanya gampang.
Tidak hanya ponsel. Cobalah Firefox, WordPress, dan Gmail berbahasa Indonesia. Sebagian dari kita malah kikuk, setidaknya pada permulaan. Seringkali harus tek-tok menebak bahasa Inggrisnya dulu baru paham.
Lama kelamaan kita toh terbiasa. Lagi pula proses pengindonesiaan terus berlangsung, sehingga “month sebagai mulut” dan “word(s) sebagai huruf” takkan terulang.
Kita tergeli-geli karena kita terbiasa dengan menu bahasa Inggris. Tapi Abang Sayur dan Kang Kernet langsung nyaman dengan menu Indonesia sejak awal memiliki ponsel. Maka ada saja angkot ber-”Pesan Terkirim“.
Ragam Iklan Malaysia

Mulanya ketika mencari gambar kerbau di Google, untuk ilustrasi di situ, saya malah mendapatkan gambar cewek. Setelah sampai ke situsnya, saya menjumpai gambar promo bertema “nasi rames” Malaysia itu. Ketika saya mencari versi yang lebih tajam malah mendapatkan versi burger. Menarik, operator sadar keragaman konsumen. Isi pesan sih sama. Nah, temuan dari kata kunci “kerbau lumpur” yang mengantarkan saya ke situs promo Streamyx itu lihat di bawah.

100 Kata | Lumpur Kubang Korupsi

Korupsi itu isu basi. Kita kadung terbiasa, setidaknya sebagai penonton dan korban.
Kabar korupsi hanya menarik jika magnitudonya besar, menyangkut angka raksasa; jika prominensinya tinggi, melibatkan kaum bernama. Setelah itu kita lupa karena banyak urusan dalam kehidupan.
Membaca Tempo pekan ini, tentang korupsi di lingkaran KPK, kita cuma mengernyitkan dahi, tersenyum kecut. Tak ada yang bersih di republik ini, begitu kata orang di warung.
“Aja cedhak kebo gupak,” kata pepatah Jawa. Jangan berdekatan dengan kerbau berlumang lumpur.
Itu sulit. Kita sendiri mungkin tak begitu bersih, sudah sebisanya menjauh, tapi tetap tepercik.
Masih bagus kalau tepercik rezeki, bukan terciprat masalah. Blah!
Di luar 100 kata | © Ilustrasi: sumber foto dari Lion’s Den, Kerbau-scape
100 Kata | Siesta atawa Tidur Siang

Masih ada. Terutama di luar Jakarta. Toko-toko lama yang siang sampai sore tutup. Pemiliknya beristirahat. Begitu pula pegawainya.
Makin jarang terdengar. Anak-anak Ibu Kota yang melarikan diri dari tidur siang. Sekolah dan kegiatan membuat mereka sibuk dari pagi buta hingga petang. Anak mengelabui orangtua soal tidur siang hanya cerita masa lalu.
“Orang yang suka tidur siang itu pemalas. Nggak produktif,” katamu.
Mungkin saja, kataku.
“Siesta itu sebuah kemanjaan semu, orang cuma buang waktu buat tidur. Menyedihkan,” katamu lagi.
Kemanjaan? Tepatnya kemewahan. Tidak setiap orang memiliki kesempatan itu secara terang-terangan, bukan mencuri-curi, tanpa mengganggu sistem pelayanan.
Berbahagialah orang yang punya siesta.
Di luar 100 kata | © Ilustrasi: sumber gambar Wikipedia, “Sleeping Man in Ouagadougou“
wonderful coming of age
100 Kata | Dokumentasi Kenyinyiran

“Tuh nggak ada yang komen,” katamu.
Ngeblog: membuang lamunan, menaruh temuan, termasuk foto. Bahkan yang terblogkan kadang hanya separonya yang kudapat.
Nggak mungkin semua orang tahu dan mau baca tulisan kita. Waktu mereka terbatas. Yang penting aku sudah menuliskannya. Nasib tulisan itu kemudian entahlah.
Menulis itu sepanjang sempat, ingat, tanpa tenggat. “Tapi nyinyir!” sergahmu.
Memang. Ini dokumentasi kenyinyiran. Orang lain bisa lebih nyinyir, lisan maupun tertulis. “Tapi mereka berinteraksi, bergaul, bukan asyik sama konten sendiri,” sanggahmu.
Aku sadar. Makanya aku nggak autopost ke mana-mana. Di Facebook pun sudah mengganggu. Promo di Twitter? Akan semakin menjengkelkan orang karena unjuk posting keseringan.
BlackBerry-alike Series

Itulah kekuatan brand di benak konsumen. Di dalam benak itu ada harapan, keyakinan, bahkan kebanggaan terhadap produk. Bagi produsen dan pedagang yang “kreatif” dan “smart”, dalam arti tak mau kecapekan membangun merek sendiri, bermirip-mirip bukan masalah. Toh konsumen juga mau. Apalagi harganya di bawah Rp 1 juta, ber-Wi-Fi pula.
Mirip iPhoney, ketika iPhone belum resmi masuk Indonesia.
Ukuran SIM Card

Mestinya ukuran bingkai SIM card memang semakin mengecil karena yang penting kepingnya. Dulu, belasan tahhun lalu, memang ada ponsel yang slotnya seukuran bingkai SIM card. Tapi kalau sekarang keping dijual tanpa bingkai, padahal tanpa kemasan yang besar, pasti gampamg terselip. Oh ya adakah di antara yang mengoleksi kartu perdana tanpa keping terlepas?
Kartupos Mungil

Makin jarang orang mengirim kartupos, kecuali untuk kuiz dan sejenisnya. Bagaimana dengan kartu garansi ponsel? Kartupos ini menyesuaikan diri dengan ukuran kemasan. Maka ukurannya pun separo kartupos biasa. Bisa-bisa terselip dalam penyortiran. Belum lagi cara menuliskan nama pengirim di atas permukaan gelap — harus pakai spidol perak/emas. Eh, “kartu pos” atau “kartupos” sih?
Ojex, Bechex

Nggak baru-baru amat. Semakin banyak yang menuliskan “ojex”. Maka kian lengkaplah ejaan di pangkalan Mayestik, Jakarta Selatan, itu: ojek, ojeg, dan ojex.







