Blog oleh Warga

Mendung di Radio Dalam

Antyo Rentjoko - 1 hour 38 min ago

Suatu siang, pukul 14.20.07 pada catatan jepretan saya. Tertanggal 1 Maret 2010. Kenapa kita cenderung tak menyukai mendung tapi bisa menerima hujan bahkan mengharapkannya?

© Foto: saya

Related posts:

  1. Dikeringanginkan Bahkan ketika tidak mendung tidak hujan pun cucian tertentu...
  2. Jendela dalam Ruang Saya menyukai dinding bolong sebagai penghubung ruang. Dia bisa...
  3. Tangan-tangan dalam Transjakarta Merayap bersandingan. Kadang bus sedikit lebih cepat daripada saya,...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Daun Kering di Kolam

Antyo Rentjoko - 1 hour 46 min ago

Tampaknya hanya daun-daun kering yang memanfatkan kolam jernih itu . Orang datang ke rumah besar itu untuk mengudap. Mungkin ketika menjadi rumah tinggal, kolamnya sudah ada. Jadi itulah bedanya riwayat si kedai dengan poolside bar — padahal anjungannya sama-sama mengelilingi kolam.

© Foto: saya

Related posts:

  1. Resto dan Kolam Renang Jika orang dalam ruang terganggu pemandangan dunia luar, atau...
  2. Daun di atas Bak Sampah Tidak, ini tidak natural. Saya sudah menggeser daun itu...
  3. Kolam di Halaman Hanya kolam kecil yang disusun berundak. Supaya kantor lebih...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Rumput, Daun, dan Plastik

Antyo Rentjoko - 1 hour 59 min ago

Apa boleh buat, itulah yang kerap terjadi. Itu saya lihat saat melintasi jalur pejalan di di Taman Langsat, senja tadi sehabis hujan.

© Foto: saya

Related posts:

  1. Daun di atas Rumput Biasa, tak istimewa, selalu terjadi, sering terlihat. Helai daun...
  2. Senja di Langsat Tadi sore, pukul 17.58. Saya dan Ndaru merasakan senja...
  3. Jangan Termangu di Atas Jembatan Kayu Pukul 17.43.12. Jembatan kayu itu licin setelah hujan memandikannya. Masih...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

BB Anyar Seri yang itu

Antyo Rentjoko - 2 hours 14 min ago

Belum resmi masuk pasar Indonesia. Bentuknya seperti seri lama yang mirip ponsel biasa itu. Mungkin akan resmi beredar pertengahan tahum ini. Research InMotion terkesan membatasi publisitas produk ini. Tebak berapa harganya nanti? ;)

Share/Bookmark

Yang Segar dan yang Layu

Antyo Rentjoko - 2 hours 53 min ago

Hukum alam belaka. Yang mulanya segar juga menjadi layu kemudian mengering — dan busuk. Tapi keindahan tak hanya ada pada yang masih segar, bukan? ;)

© Foto: saya

Related posts:

  1. Yang Lainnya ke Mana? Mungkin sudah tak berfungsi. Lantas disingkirkan. Tinggallah yang masih...
  2. Yang juga Bersuara Lubang pengeluar udara sejuk. Bukan spiker. Bersuara juga kok...
  3. Ruang Makan yang Sepi Setelah anak dan cucu selesai berlebaran, ruang makan ini...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Jangan Termangu di Atas Jembatan Kayu

Antyo Rentjoko - 3 hours 2 min ago

Pukul 17.43.12. Jembatan kayu itu licin setelah hujan memandikannya. Masih untung ada bilah papan penutup ompong. Tapi mengapa harus menempuh jalan sunyi sempit licin yang jarang sekali berpapasan dengan orang setiap kali melintas, apalagi ketika senja mulai merayap? Selalu ada penempuh jalan sunyi yang bahagia dengan pilihannya.

© Foto: saya

Related posts:

  1. Jembatan di atas JORR JORR? Mana? Jakarta Outer Ring Road – South. Lalu...
  2. Senja di Langsat Tadi sore, pukul 17.58. Saya dan Ndaru merasakan senja...
  3. Dan Sepatu itu pun Termangu Maaf, judul ini berlebihan. Saya hanya mencoba sok puitis...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Basah yang Basah

Antyo Rentjoko - 3 hours 11 min ago

Cerita tentang sebuah tong sampah.

© Foto: saya

Related posts:

  1. Tong Sampah Berbunyi Garing Inilah tong sampah, berbahan drum bekas, yang dirantai dan...
  2. Dua Wadah Sampah Kotak sampah di pelupuk mata tetap tampak, begitu pula...
  3. Merah yang Kebetulan Kebetulan tema pameran F.X. Harsono, The Erased Time, tentang...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Dekat belum Tentu Jelas

Antyo Rentjoko - 3 hours 17 min ago

Begitu pula sebaliknya: yang jelas dan mudah terbaca belum tentu dekat.

© Foto: saya

Related posts:

  1. Belum Reyot Kursi ini belum reyot, masih lumayan kokoh, hanya tampangnya...
  2. Dekat Jendela Untuk penerbangan pendek, saya seperti anak kecil dari udik....
  3. 69, Angka Keramat? Angka bagi orang tertentu punya makna. Ada yang percaya...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Tulisan Terbalik

Antyo Rentjoko - 3 hours 26 min ago

Bukan salah yang memasang. Tapi juga bukan salah yang membaca. Teks dari stiker potong ini dirancang untuk dibaca dari dalam ruang. Jarang  ada orang di luar yang melintas di depan kaca. Kesimpulan: tak ada masalah.

© Foto: saya

Related posts:

  1. Koran di Atas Bangku Bangku beton di halaman sebuah kantor kontraktor BTS, Jakarta...
  2. Jendela Berkaca (dan Kerai) Lebih untuk siapakah sebuah jendela berkaca tembus pandang,  yang...
  3. Awas Kaca! Para tukang bangunan punya cara jitu untuk membuat peringatan....

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Senja yang tak Segelap ini

Antyo Rentjoko - 3 hours 34 min ago

Masih pukul 17.35.54. Dalam kenyataan senjanya masih terang, matahari belum sepenuhnya terbenam, tapi lampu-lampu taman sudah menyala. Cahaya yang masuk ke kamera saku saya kurangi. :D

© Foto: saya

Related posts:

  1. Kap Lampu yang itu Niat saya sih tiduran di ruang temaram dengan sumber...
  2. Yang Segar dan yang Layu Hukum alam belaka. Yang mulanya segar juga menjadi layu...
  3. Si Pengganggu Malam hari dia seperti tersesat edar, sendirian  masuk ke...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Pintu dan Tangga

Antyo Rentjoko - 3 hours 44 min ago

Pintu geser putih dibuka sampai hampir mepet ke ujung. Tangga kayu tinggal ditapaki. Lalu terhamparlah ruang pamer. Seni (rupa) untuk siapa (saja)?

© Foto: saya

Related posts:

  1. Merambat Ketika tembok dicat putih beberapa bulan lalu, tanaman belum...
  2. Kayu Nangka Kursi dan meja berabahan kayu nangka pada sebuah kedai...
  3. Di Balik Tembok Batu Dinding putih. Pintu putih. Jendela putih. Tutup semuanya. Sepi....

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Bergegas

Antyo Rentjoko - 4 hours 37 min ago

Ayo cepat. Lekaslah. Jangan mau ditipu hujan.
...
Sent from BaldBerry® 2MP camera BlackMarket Edition • Sinyaletoy Network

Permalink | Leave a comment  »

Sudah reda

Antyo Rentjoko - 4 hours 39 min ago

Ayo pulang ke kantor. Sebentar lagi hujannya menyerah -- atau malah menderas lagi.
...

Sent from BaldBerry® 2MP camera BlackMarket Edition • Sinyaletoy Network

Permalink | Leave a comment  »

Berteduh

Antyo Rentjoko - 4 hours 46 min ago

Masih gerimis. Di emper sebuah galeri di Jakarta Selatan.
...

Sent from BaldBerry® 2MP camera BlackMarket Edition • Sinyaletoy Network

Permalink | Leave a comment  »

Padamkan Sejam, Anda Terangi 900 Desa

Antyo Rentjoko - 6 hours 15 min ago

Jika semua penduduk Jakarta, ditambah kawasan tetangga, mematikan minimal dua lampu selama satu jam, maka itu jelas sangat berarti. Kok bisa?

Sejam dua lampu padam itu setara dengan:

  • menghemat 0,4 persen dari total konsumsi listrik per hari (300 Mwh)
  • mematikan satu pembangkit listrik
  • Menerangi 900 desa
  • menghemat 263,24 ton CO2
  • jumlah CO2 yang diserap oleh lebih dari 263 pohon
  • jumlah O2 yang dibutuhkan oleh lebih dari 526 orang

Lakukan itu pada Sabtu 27 Maret 2010, selama pukul 20.00-21.00. Supaya orang rumah tak lupa, cantelkan kartu pengingat pada boks saklar.

Cara memperoleh kartu berbonus gantungan kunci/tas, yang lembar sisanya bisa untuk pembatas buku? Kunjungilah Earth Hour Indonesia, ikutlah Twitter-nya. Peran serta Anda akan dicatat.

Kegiatan Earth Hour ini boleh kita anggap tak ada urusannya dengan PLN. Tahu bedanya? Pemadaman kita lakukan sendiri, secara sukarela, untuk kepentingan yang lebih luas.

Sedangkan pemadaman oleh PLN bisa kita alami kapan pun, bisa tanpa jadwal maupun pemberitahuan, sehingga kegiatan kita terganggu (dan merugikan), semata karena PLN bingung kalau jualannya laku, lantas konsumen hanya bisa berdendang “gajah mati meninggalkan gading, listrik mati meninggalkan rekening”.

Tapi kalau mau dihubung-hubungkan dengan PLN juga bisa ding. Kalau kita memakai listrik secara efisien maka tagihan bulanan kita bisa berkurang.

Share/Bookmark

Maju (tak) Lancar Membelah Kota

Antyo Rentjoko - 8 hours 22 min ago
SECARA BERTAHAP POTRET KITA BERUBAH.

Tangan saya bisa menyentuh bodi bus Maju Lancar di samping kanan. Sangat mepet untuk kerapatan antarmobil. Tak menyisakan celah, baik bagi pengasong, penyeberang, apalagi sepeda motor. Asap knalpot menjadi konsumsi bersama. Jangan heran jika bungkus permen asongan pun berjelaga, terlekati arang berminyak.

Sepanjang sekitar enam kilometer saya merambati jalanan bersama Maju Lancar. Kadang jejer, kadang dia di depan, dan akhirnya di belakang. Kami sama-sama maju meski tak lancar.

Jalan raya adalah potret kota. Yang berdesakan dan berebut ruang adalah wakil-wakil warga tanpa pemilihan. Semuanya menerima sebagai keapabolehbuatan.

Berebut ruang: “lebensraum” setiap saya

Berapa jumlah mobil dan motor di Jakarta? Kita hidup dalam belantara data. Ketimbang bicara salah satu versi angka, saya kutip saja kesimpulan Komisi Kepolisian Indonesia, Juni 2009: setiap satu keluarga di Jakarta memiliki tiga kendaraan bermotor.

Itu yang terdata di DKI — tetapi tak memasukkan kendaraan TNI dan Polri. Padahal mobil dari kawasan pengepung juga banyak. Dari Bekasi, Bogor, Depok, Tangerang, Serpong, dan Banten.

Mereka yang setiap hari bepergian adalah pelaku rebutan ruang jalan. Setidaknya sopir pribadi maupun sopir bus adalah wakilnya penumpang. Begitu pula halnya para pembelah jalan (voorrijder/outrider) dan mobil kawal para tuan negara maupun partikelir. Mereka, para pembelah jalan itu, adalah wakil para tuan untuk bertarung demi ruang.

Terhadap semua itu, jawaban ringkas sudah ada — tapi di atas kertas. Yaitu sistem transportasi umum yang andal dan beradab. Bosan kita mendiskusikannya, apalagi para penentu kebijakan dan pengambil keputusan bukan pengguna angkutan umum — kecuali dulu, pada awal karier; dan sebisanya (mungkin) itu mereka lupakan.

Kendaraan yang berjiwa

Mengamati mobil, apalagi motor, seperti melihat organisme. Mereka tak hanya bergerak tetapi juga berjiwa — dan untung tak berkembang biak dengan pembelahan maupun kopulasi. Dalam konsentrasi dan kewaspadaan prima, setiap pengendara bisa membaca bahasa tubuh kendaraan lain.

Mungkin soal bahasa tubuh itu berlebihan. Toh keluhan pemobil terhadap pemotor tak pernah usai. Ternyata ada satu hal yang kurang dipahami oleh sebagian pemobil, sehingga kadang harus saya jelaskan.

Apa? Naik motor, apalagi pakai jaket dan helm, itu gerah. Berjalan lamban apalagi berhenti berarti alir udara serasa distop.

Bukan hanya itu. Bagi pemotor, pilihan terbaik adalah hanya menurunkan kaki untuk menyangga tunggangan pada saat bertolak dan tiba. Itu sebabnya mereka yang berpantang turun kaki suka main terabas.

Permainan peran, pertukaran peran

Tentu petanya tak sekontrer itu, sekadar mobil versus motor. Mereka yang secara selang-seling mengendarai mobil dan motor pun menerapkan prinsip di kandang harimau mengaum, di kandang kambing mengembik. Saat naik motor berlakulah seperti umumnya pemotor, demikian pula saat bermobil: tirulah pemobil yang semaunya.

Jakarta dan kota besar lain di Indonesia tak sendirian, kata teman Anda. Berebut ruang jalanan memang tak terhindarkan, kata temannya teman Anda.

Baiklah, tapi kita sama-sama tahu bahwa ketertiban dan kesemrawutan itu tak hanya ditentukan oleh jumlah kendaraan tetapi juga tata, orde(r), yang terbangun dalam setiap masyarakat. Maka rasanya tak berlebihan jika kita menganggap jalan raya kita adalah bagian dari potret sosiologis Indonesia.

Apa menariknya? Sampai pertengahan 90-an, menurut kesan saya, penerabas lampu merah tak separah sekarang.

Rasanya ini bukan cuma pasal volume kendaraan. Ini soal sikap dan perilaku dalam menjalani hidup di kota. Permukiman kian menjauhi sentrum kota, area bisnis kian menyebar, sehingga bepergian pun semakin jauh. Anehnya, meskipun kita mengamini jam karet, tetap saja terburu-buru di jalan.

Semuanya bergegas? Tentu tidak. Ada saja mobil berjalan santai di lajur kanan, bahkan di jalan tol. Ada yang sambil menelepon, ada pula yang ngobrol, atau kalau sendirian ya melamun.

Sangat beragam perilaku kita di jalanan. Peran-peran itu bisa bertukar sesuai keadaan. Tetapi ada yang tetap: kita marah jika terhalang, dan ketika menjadi penghalang kita kesal terhadap pengendara lain yang ingin cepat.

Kita? Maksud saya sebagian dari kita. Maaf. Barangkali itulah makna konsistensi.

Anda punya amatan terhadap para pengguna jalan? Bagikanlah. :)

Maju (tak) Lancar Membelah Kota

Paman Tyo - 8 hours 22 min ago
SECARA BERTAHAP POTRET KITA BERUBAH.

Tangan saya bisa menyentuh bodi bus Maju Lancar di samping kanan. Sangat mepet untuk kerapatan antarmobil. Tak menyisakan celah, baik bagi pengasong, penyeberang, apalagi sepeda motor. Asap knalpot menjadi konsumsi bersama. Jangan heran jika bungkus permen asongan pun berjelaga, terlekati arang berminyak.

Sepanjang sekitar enam kilometer saya merambati jalanan bersama Maju Lancar. Kadang jejer, kadang dia di depan, dan akhirnya di belakang. Kami sama-sama maju meski tak lancar.

Jalan raya adalah potret kota. Yang berdesakan dan berebut ruang adalah wakil-wakil warga tanpa pemilihan. Semuanya menerima sebagai keapabolehbuatan.

Berebut ruang: “lebensraum” setiap saya

Berapa jumlah mobil dan motor di Jakarta? Kita hidup dalam belantara data. Ketimbang bicara salah satu versi angka, saya kutip saja kesimpulan Komisi Kepolisian Indonesia, Juni 2009: setiap satu keluarga di Jakarta memiliki tiga kendaraan bermotor.

Itu yang terdata di DKI — tetapi tak memasukkan kendaraan TNI dan Polri. Padahal mobil dari kawasan pengepung juga banyak. Dari Bekasi, Bogor, Depok, Tangerang, Serpong, dan Banten.

Mereka yang setiap hari bepergian adalah pelaku rebutan ruang jalan. Setidaknya sopir pribadi maupun sopir bus adalah wakilnya penumpang. Begitu pula halnya para pembelah jalan (voorrijder/outrider) dan mobil kawal para tuan negara maupun partikelir. Mereka, para pembelah jalan itu, adalah wakil para tuan untuk bertarung demi ruang.

Terhadap semua itu, jawaban ringkas sudah ada — tapi di atas kertas. Yaitu sistem transportasi umum yang andal dan beradab. Bosan kita mendiskusikannya, apalagi para penentu kebijakan dan pengambil keputusan bukan pengguna angkutan umum — kecuali dulu, pada awal karier; dan sebisanya (mungkin) itu mereka lupakan.

Kendaraan yang berjiwa

Mengamati mobil, apalagi motor, seperti melihat organisme. Mereka tak hanya bergerak tetapi juga berjiwa — dan untung tak berkembang biak dengan pembelahan maupun kopulasi. Dalam konsentrasi dan kewaspadaan prima, setiap pengendara bisa membaca bahasa tubuh kendaraan lain.

Mungkin soal bahasa tubuh itu berlebihan. Toh keluhan pemobil terhadap pemotor tak pernah usai. Ternyata ada satu hal yang kurang dipahami oleh sebagian pemobil, sehingga kadang harus saya jelaskan.

Apa? Naik motor, apalagi pakai jaket dan helm, itu gerah. Berjalan lamban apalagi berhenti berarti alir udara serasa distop.

Bukan hanya itu. Bagi pemotor, pilihan terbaik adalah hanya menurunkan kaki untuk menyangga tunggangan pada saat bertolak dan tiba. Itu sebabnya mereka yang berpantang turun kaki suka main terabas.

Permainan peran, pertukaran peran

Tentu petanya tak sekontrer itu, sekadar mobil versus motor. Mereka yang secara selang-seling mengendarai mobil dan motor pun menerapkan prinsip di kandang harimau mengaum, di kandang kambing mengembik. Saat naik motor berlakulah seperti umumnya pemotor, demikian pula saat bermobil: tirulah pemobil yang semaunya.

Jakarta dan kota besar lain di Indonesia tak sendirian, kata teman Anda. Berebut ruang jalanan memang tak terhindarkan, kata temannya teman Anda.

Baiklah, tapi kita sama-sama tahu bahwa ketertiban dan kesemrawutan itu tak hanya ditentukan oleh jumlah kendaraan tetapi juga tata, orde(r), yang terbangun dalam setiap masyarakat. Maka rasanya tak berlebihan jika kita menganggap jalan raya kita adalah bagian dari potret sosiologis Indonesia.

Apa menariknya? Sampai pertengahan 90-an, menurut kesan saya, penerabas lampu merah tak separah sekarang.

Rasanya ini bukan cuma pasal volume kendaraan. Ini soal sikap dan perilaku dalam menjalani hidup di kota. Permukiman kian menjauhi sentrum kota, area bisnis kian menyebar, sehingga bepergian pun semakin jauh. Anehnya, meskipun kita mengamini jam karet, tetap saja terburu-buru di jalan.

Semuanya bergegas? Tentu tidak. Ada saja mobil berjalan santai di lajur kanan, bahkan di jalan tol. Ada yang sambil menelepon, ada pula yang ngobrol, atau kalau sendirian ya melamun.

Sangat beragam perilaku kita di jalanan. Peran-peran itu bisa bertukar sesuai keadaan. Tetapi ada yang tetap: kita marah jika terhalang, dan ketika menjadi penghalang kita kesal terhadap pengendara lain yang ingin cepat.

Kita? Maksud saya sebagian dari kita. Maaf. Barangkali itulah makna konsistensi.

Anda punya amatan terhadap para pengguna jalan? Bagikanlah. :)

Di belakang pagar

Antyo Rentjoko - 18 hours 35 min ago

Hari sudah pagi, tak lama lagi terbit fajar. Setoran belum juga terkejar. Keluar ke halaman, mengamati sekitar. Hanya sebentar.
...

Sent from BaldBerry® 2MP camera BlackMarket Edition • Sinyaletoy Network

Permalink | Leave a comment  »

Pagi Kemarin yang Panas

Antyo Rentjoko - 19 hours 7 min ago

Kemarin, pukul 08.37 pagi, cuaca cerah sekaligus panas. Saya numpang ngadem, tiduran di sofa kantor RW, Langsat, setelah jalan-jalan, sarapan lontong sayur, minum beras kencur. Ketika bangun tengah hari saya bingung ketika ditanya kawan, “Nggak ketemu Menkominfo?” Lho, dapat undangan saja tidak kok. Tahu ada acara juga kagak. Dan kali itu ada bagusnya nggak datang. Karena tidur lagi lebih utama. Menteri juga nggak kenal saya.

© Foto: saya

Related posts:

  1. Keberangkatan Tidak semua orang bergegas. Ada juga yang santai karena...
  2. Biarkan Sore Kian Gelap Check in di hotel sudah sore ketika saya tiba...
  3. Bawah Tanah, Suatu Pagi Blok M Mall suatu pagi. Ketika toko-toko belum buka....

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

100 Kata | Obamah, Amerikah, Terserahlah

Antyo Rentjoko - 20 hours 44 min ago

obama dan propaganda kedubes amerika

Obama batal datang.  Tapi lebih penting ini: teman saya yang mirip Obama itu, Ilham Anas, kapan pun saya harapkan tetap sehat dan suka memotret.

Saya termasuk yang tidak suka dengan kemenduaan Amerika, misalnya terhadap Palestina. Juga penyerbuan ke Irak dan Afghanistan. Masih ditambah Guantanamo.

Saya pun memahami ketidaksukaan sebagian orang terhadap propaganda Kedubes Amrik Jakarta, misalnya yang di  Facebook itu. Bagaimana kalau yang anti-Amrik juga memanfaatkan Facebook, yang Amrik punya, itu untuk mendukung para (kepala) negara pelawan Amrik? Ndak masalah.

Kalau lawan punya angkot, tumpangilah. Ini soal taktis, bukan pasal malu. Ngapain beli angkot sendiri kan? Gitu aja kok repot.

Syndicate content