Adhi Widjajanto
Telat 1 hari, segel! -> PLN
Tadi pagi saya dikagetkan Yanty karena ada petugas PLN datang ke rumah mau menyegel meter listrik karena belum bayar. Yah, memang telat sih, batas waktu tanggal bayar saya 20 September 2011. Tapi ini BARU TANGGAL 21 September 2011, makan siang pun belum! Rajin amat yak sok segel-segel. Wong kalau komplain listrik mati ke 123 saja response time nya ga akan secepat ini.
Akhirnya meter saya yang sudah disegel dibuka kembali setelah Yanty bayar via ATM dan fax bukti pembayaran ke 123. Entah bener ga masangnya, nanti malam harus dilihat lagi. Plus petugasnya minta uang lagi... Ampun dah. Dikasih 10 ribu sama pengasuhnya anak-anak, ngeloyor pergi. Kapan profesionalnya sih petugas lapangan publik di republik ini...
Hujan, Car Wax, dan Anak-Anak
Kemarin sore tumben-tumbennya hujan. Rumor di Internet katanya hujan buatan. Bagus juga sih, menggelontor debu di Jakarta.
Anak-anak sedang les di luar rumah. Jam 6.30 sore hujan masih turun, cukup deras. Saya lalu tanya ke Yanty, "Jemput anak-anak pake mobil?" Harap-harap cemas, soalnya siangnya baru saja "keringetan" nge-wax mobil. Yanty cuman bilang, "Siapin jas hujan deh". Wkwkwkwkwk...
Tapi ga tega lah. Saya lalu membuka sarung mobil, wuss... kecium tuh wangi carnaubanya. Trus berangkat keluar jemput anak-anak. Pulangnya mampir beli Coke & es krim. Sampe rumah hujan reda. Keringetan lagi deh nyemprot mobil & ngelap kering. Kelar jam setengah delapan malam, makan es krim bareng anak-anak ditemenin Coke... Sedaaappp... :D
Hehehe... masa iya sih mo menomor-dua-kan anak-anak dari mobil...
DIY: Pasang Relay & Stabilizer untuk Headlamp Honda New Jazz
Well, saya kena "racun" dari trit otomotif. Ditebus dengan harga 100 ribu di Tanto Motor dengan harapan cahaya lampu bisa lebih solid. Pasangnya pun ga susah kok, ini yang saya lakukan.

MX-11 yang saya beli terdiri dari tiga komponen: kabel lampu (nomor 1), bracket (nomor 3), dan MX-11 (nomor 2) itu sendiri.
DIY: Cara ganti klakson Honda New Jazz 2011
Well, suara klakson OEM Honda Jazz (termasuk yang MMC 2011) yang beredar di Indonesia memang cemen, cupu, ngga banget, "kek suara bebek" kata Willi. So demi bisa berfungsi dengan normal untuk penggunaan di Jakarta, saya ganti pakai yang lebih besar. Saya memilih Hella Twin Tone Black.
Problemnya, klakson OEM itu super mini, kelihatannya lebih kecil dari klakson Honda Beat, jadi mountingnya dipasang di sisi kanan dalam bumper. Untuk memasang klakson keong Hella diperlukan tempat yang lebih luas. Ada dua pilihan: pasang jadi satu persis di belakang grill, atau pasang terpisah satu di belakang grill dan satu lagi di bawah headlamp kiri. Well untuk ruang di bawah headlamp kiri memang super lega, cuman harus bikin mounting lagi. Akhirnya saya pilih dijadikan satu di belakang grill. Ini yang saya lakukan (maaf, ga ada gambarnya, cuman tulisan doang).
Nokia's Full Focus Lens
Nokia, walau banyak berita mengatakan perusahaan Finlandia ini sedang terpuruk, masih menjadi favorit saya selevel dengan Canon dan Honda. So, saat mereka mengeluarkan produk-produk baru henpon berkamera TANPA auto focus, saya jadi bingung. Kenapa? Buat menekan harga lalu jualan produk kacangan?
Ternyata tidak. Henpon Nokia berkamera tanpa auto focus itu disebut Full Focus. Apa lagi itu. Well, dari baca-baca di sini dan di sini, lensa full focus tak lebih dari lensa ber DOF super lebar. Dengan form factor relatif lebih kecil dari auto focus lens, maka Nokia sukses menipiskan ukuran lini produknya.
Well, buat saya pribadi auto focus lenses are still my favorite. Buat anda? Pada referensi saya yang kedua ada tabel pembanding yang bisa membantu anda untuk menentukan pilihan. Yah, itu kalau anda masih kenal dengan merek Nokia... :D
DIY: Pasang Radar Pompa Air
Sering banget ya yang tanya soal pemasangan radar pompa air. Ni di milis Tabloid Rumah ada lagi yang tanya. Well, saya hany aberbagi pengalaman saja dah. Pernah pasang 1 radar untuk 1 pompa, sampai 2 radar untuk 1 pompa. Yang pertama kayaknya nggak ribet-ribet amat, semua plumber mestinya tahu. Untuk yang kedua, diperlukan sedikit ilmu elektronika, memahami cara kerja seungguhnya radar air ini.
Berikut diagram pemasangan 1 radar untuk 1 pompa:

Pompa akan hidup saat kedua bandul radar tergantung di udara. Pompa akan mati saat kedua bandul radar terendam air.
Sedangkan untuk pemasangan 2 radar untuk 1 pompa adalah sebagai berikut:

Pompa akan hidup saat kedua bandul radar 2 tergantung di udara DAN kedua bandul radar 1 terendam air. Pompa akan mati saat kedua bandul radar 2 terendam air ATAU saat kedua bandul radar 1 tergantung di udara. Pompa akan tetap mati meskipun kedua bandul radar 2 menggantung di udara apabila kedua bandul radar 1 menggantung di udara. Hal ini memberikan keamanan pada pompa agar tidak menghisap tangki kosong.
Bayangkan, diagram 2 itu saya aplikasikan pada sumur terbuka. Jadi tali radar saya ganti dengan tali yang lebih panjang dan mesti buat dudukan radar di atas bibir sumur. Sumur orang tua saya di kampung dalamnya tak sampai tujuh meter. Air jernih mengucur dari dinding-dinding sumur dan berhenti pada kedalaman empat meter. Jadi daya tampung sumur memang terbatas. Tangki air di atas tower cukup besar dan cepat habis karena digunakan untuk lebih dari 10 anak kost... :D Untung kamar mandinya cuma 3 sehingga pompa masih cukup cepat mengisi tangki yang kosong.
Umumnya, radar memiliki 2 pasang sekrup untuk pemasangan kabel. Pasangan A akan terhubung saat kedua bandul tergantung di udara dan akan terputus saat kedua bandul terendam air. Pasangan B berfungsi kebalikannya, yaitu akan terputus saat kedua bandul tergantung di udara dan akan terhubung saat kedua bandul terendam di air. Sayangnya, kebanyakan radar yang dijual di pasaran tidak dilengkapi dengan skema yang memadai sehingga kita terpaksa menggunakan multitester untuk mengetahui pasangan-pasangan sekrup tersebut.
DIY: Dealing With Car's Water Spots
Seumur-umur ngerawat mobil baru kali ini kena water spots, sekujur bodi & kaca lagi. Minggu lalu di Salatiga cuci mobil, jam 7 pagi padahal, bukannya mobil jadi kinclong, malah bercak-bercak water spots dimana-mana. Parah dah. Mana nggak bawa perlengkapan detailing lagi. Akhirnya baru diberesin pas dah sampe di Jakarta lagi.
Yang saya bersihkan pertama adalah kaca. Setelah diguyur air, Glass Scrub saya tuangkan di atas spons cuci piring (pakai yang sisi halusnya), lalu digosokkan kuat-kuat ke kaca dengan gerakan atas bawah, kiri kanan, dan melingkar. Diulang terus sampai berasa cukup, lalu guyur air lagi sampai residu Glass Scrub terbilas bersih. Kaca langsung dikeringkan dan diamati. Kalau masih ada water spots, ulangi dari awal. Ada beberapa bagian kaca yang cukup satu kali, tapi ada juga yang perlu sampai 3 kali! Oh ya, walaupun tidak dianjurkan, saya juga memoles kaca spion. Selesai kaca, istirahat dulu.
Kaca selesai, saya lalu mencuci seluruh badan mobil, secepatnya. Lalu saya ambil Turtle Wax Carnauba Cleaner Wax. Oh... ternyata wax yang satu ini bisa "cut" light swirl marks & oxidations! Semoga water spots bisa hilang juga. Padahal sudah siap juga dengan Turtle Wax Premium Polishing Compound. Cleaner wax ditotol pakai applicator pad dan digosok memutar di bodi mobil. Setelah rata, saya gosok lagi dengan microfiber towel sampai water spots nya tak terlihat. Saya mengerjakannya per panel. Kalau ada bagian yang membandel, saya ulang lagi. Tapi dari pengamatan, sekali saja pakai cleaner wax cukup ampuh. Bernafas lega deh.
Tips:
- Disarankan pakai sarung tangan karet saat mengaplikasikan Glass Scrub. Bahannya tidak bersahabat dengan kulit.
- Setelah menggunakan Glass Scrub, sebaiknya lapisi kaca dengan Rain Clear.
Mata Sisi: Akhirnya pake kacamata
Ortopad memang mahal. Kalau nggak dicover kantor mana bisa saya menghabiskan delapan ribu sekali tempel (sehari satu, dipakai 3 - 4 jam). Kami sempat "bolong" beberapa bulan ga beli ortopad buat Sisi. Akibatnya benar-benar langsung terlihat. Mata kirinya semakin sering "lari". Ga tahan, akhirnya setelah finansial kami mulai stabil kembali, langsung "bersilaturahmi" dengan dr. Gusti di JEC.
Beliau bilang, perbaikan antara pertemuan pertama dan kedua sangat drastis. Di pertemuan ketiga sangat sedikit. Di pertemuan kali ini malah nggak ada perubahan compared with third. Tambah lagi Sisi mengeluh kalau mata kanannya "berkabut", jadi dia lebih sering memincingkan mata untuk membaca di papan tulis. Sedih... Cuman karena tidak disiplin pakai ortopad. Setelah tes, dr. Gusti bilang mata Sisi minus, plus yang kanan silinder. Vonis pake kacamata turun.
Ga akan berlama-lama lagi. Besoknya cari-cari optik yang bagus dan dekat dengan rumah (biar ceknya gampang). 4 hari jadi dan...

Semoga masih bisa hilang minusnya. Cuman yang silinder kata orang-orang yang berkacamata silinder ga bisa ilang ya? :(
DIY: Pasang stiker di lubang pegangan pintu
Bagian pegangan pintu adalah tempat rawan baret akibat kuku. Jadi, langkah terbaik adalah preventif -> lapis dengan stiker. Yah, kalau sudah baret-baret ya dipoles dulu saja sebelum dipasangi stiker. Kena kuku ya jelas stiker akan baret juga. Tapi paling tidak kalau stikernya sudah "kumuh", mudah saja menggantinya. Nah, akan repot kalau tiap mau ganti stiker harus ke tukang stiker. Sabtu lalu saya beli stiker dan pasang sendiri.
Kalau cuman sekedar potong dan tempel mah hampir semua orang juga bisa. Tapi bidang yang akan ditempel ini memiliki kelengkungan yang unik. So, saya mencoba membuat polanya dari kertas. Berikut langkah pembuatan polanya:
Setelah pola jadi, lalu kita potong dan petakan pada kertas di belakang stiker. Potong, dan tempel serapi mungkin.
Soal nempel stiker, ada cara pakai air sabun, kape, dan hot gun. Sama dengan cara pasang kaca film. Hasilnya katanya sih lebih rapi. Belum pernah coba, tapi dalam waktu dekat akan praktek juga buat sill plate.
Menyenangkan kalau bisa nyalip di antara 2 mobil
Kangen bisa gitu lagi. Tapi masih ada tugas ngabisin sekitar 550 kilometer lagi sebelum dibawa servis, jadi masih stuck dengan setir bundar ini sebelum balik ke setir lurus.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, kalau di bulan Ramadhan traffic Jakarta jadi lebih "lucu". Daerah yang biasanya macet jadi sepi, sedangkan daerah yang biasanya lancar jadi padat merayap. Dan saya terjebak di rutinitas itu. Baru satu minggu balik bawa mobil ke kantor, bawaannya pengin nyalip terus. Padahal celah di depan ya hanya pas buat motor doang. Emang susah migrasi dari motor ke mobil. Lebih gampang sebaliknya, seperti Februari lalu saat mulai naik motor ke kantor, dengan mantapnya bisa selip sana sini, nge-gas-pol kalau pas sepi, atau cuman mainin akselerasi kalau mau nyalip angkot dan metromini yang stop & go selalu dadakan. Sebulan ini mesti menahan diri... Yah... hitung-hitung ikut puasa, belajar lebih sabar.
Efek bawa mobil jadi panjang karena menyangkut masalah isi dompet. Biaya bensin naik lima kali lipat, biaya parkir naik dua kali lipat. Apesnya lagi, kaki kanan saya sudah lupa caranya menginjak pedal gas. FC AVG saya hanya dapat segini...

Padahal dulu bisa di atas 9... hiks...
DIY: Pasang Sensor Parkir (Mundur) di Honda Jazz
DIY time! Kalau minta pasangin tukang paling cuman bayar 30 - 50 ribu. Tapi ga dapet puasnya pasang sendiri. Ini sharing saya: pasang sensor parkir (mundur) dua titik dengan display pada Honda All New Jazz (ANJ) MMC/ Facelift.
Mengubah Ukuran Harddisk di VM/ VBox
Untuk referensi saja. Cara mudah mengubah ukuran harddisk VMWare/ VirtualBox:
- Siapkan ISO gparted live CD.
- Buat harddisk baru dengan ukuran sesuai yang diinginkan.
- Mount ke VM yang akan diubah ukuran harddisknya.
- Ubah boot order dari harddisk lama ke ISO gparted live CD.
- Boot VM.
- Buka gparted, siapkan MBR di harddisk baru.
- Copy partisi harddisk lama.
- Paste ke harddisk baru.
- Apply.
- Besarkan ukuran partisi sampai mentok.
- Apply.
- Edit flag harddisk baru jadi bootable.
- Exit gparted.
- Ubah boot order ke harddisk baru.
- Test.
Semoga berhasil.
grub-rescue prompt, initramfs prompt: how to
Cuman re-write dari berbagai sumber di Internet, biar besok-besok nyarinya gampang.
- Boot dari CD/ USB dengan versi OS yang sama
- Buka terminal
- Cari partisi root di harddisk. Misal /dev/sda1
- mkdir /media/fixit
- mount /dev/sda1 /media/fixit
- mount --bind /dev /media/fixit/dev
- mount --bind /proc /media/fixit/proc
- mount --bind /sys /media/fixit/sys
- chroot /media/fixit
- update-grub
- grub-install /dev/sda1
- reboot
Semoga bisa bermanfaat.
Download Apa Lagi Ya?
Ya ampuuunnn...!!! Teman saya sampai tanya begitu setelah berhasil mengunduh bergiga-giga PC game dan film. Karena dia sudah download, ya saya tinggal kopi saya to, wong "kebutuhan"nya juga mirip-mirip. Jadi saya nggak bisa kasih saran ke dia.
Di kantor sini kami dapat pilihan 3 AP. Masing-masing 1Mbps punya sendiri, 1Mbps punya kantor tetangga (yang lucunya dibiarkan open tanpa sekuriti apapun), dan satu lagi sekitar 5Mbps punya kantor tetangga yang masih satu grup dengan kami. Tinggal pilih. Ubuntu saya selalu bermasalah dengan multi routing yang dipasang pada AP kantor, jadi "default"nya sudah saya ubah untuk nyantol yang ke 5Mbps. Kalau lagi full speed bisa kayak di bawah ini...

Asik ya. Ni lagi mengunduh game Wii dual layer (8 giga lebih)...
3456
Cuman ada sekali seumur ngaskus... :D

Women Time Management
Sebelumnya, perlu dijelaskan kalau saya tidak melakukan generalisasi bahwa pengaturan waktu "semua" cewek itu parah. Nope, bisa-bisa blog ini di-banned sama female readers... :D Saya hanya cerita kejadian yang saya alami saja.
Dulu... saya pernah berbantah-bantahan dengan salah satu teman (cewek), soal deadline pekerjaan. Debat kusir jadinya karena saya selalu tanya, "Lalu berapa jam kamu bisa kelarin tuh kerjaan???" dan dia selalu membalas dengan, "Ya nanti kalau saya sudah selesai saya kasih tahu!!!" Hati panas, emosi, etc... etc... Well, itu dulu, sebelum saya lebih memahami perempuan. Ha! Bukan berarti sekarang saya hebat, tapi saya terlatih... wakakakaka... trained by experiences.
Di rumah saya sedang "cuman berdua". Libur sekolah ini anak-anak sedang ngabur ke rumah eyangnya, plus pengasuhnya. Jadi praktis kami berdua lebih bebas membahas apapun di rumah. Termasuk hal yang satu ini.
Susahnya Merelakan...
Wow... What an exhausting day. Pagi berangkat naik motor ke DMB, 'nitip motor' trus lanjut dengan TiJe ke Kelapa Gading. Habis itu lanjut dengan angkot ke Autoland, ambil mobil yang sudah 2 minggu lebih ngendon di sana untuk body repair. Cek sana sini sedetil mungkin, puas, tanda tangan, bayar, dan meluncur ke kantor. "Gosong Lu" seloroh Arief.
Sore jam 15.45 ngabur, biar terhindar dari 3 in 1. Jemput Yanty lalu pulang. Sampe rumah cuci mobil, pake sabun walau tak begitu kotor, lalu di light wax. Kelar jam 8 malam. Cape, tapi puas. Tinggal bagian dalam nanti dibersihkan saat mau pergi saja.
Mungkin ini kali terakhir saya merawat mobil ini. "Collectible item", kata Pampi. Setelah itu mobil akan ngendon di Salatiga. Semoga tetap dirawat dengan serius... Jujur, ga tega, ga rela. Tapi mau gimana lagi. Walau Mom bilang masih my responsibility buat merawatnya, tapi saya kan tak bisa memolesnya setiap minggu... :(
Bermain-main dengan Proxmox, VM yang mencengangkan
Cuti bersama lalu saya gunakan untuk sesuatu yang produktif. Mampir ke salah satu klien dan mengubah salah satu server menjadi VM OS. Saya pilih Proxmox VE, atas masukan dari teman-teman di milis id-ubuntu.
Setelah download ISOnya sekitar 300MB lebih, burn ke CD dan install. Ga ada apa-apa yang perlu di set-up. Beberapa menit kemudian selesai, eject CDROM dan reboot. UI nya via web mesti dari komputer lain karena Proxmox hanya menyediakan shell prompt saja. Pembuatan VM nya cukup mudah. ISO OS lainnya bisa dikumpulkan di dalam Proxmox serupa repositori ISO. Bagi yang sudah biasa menggunakan VMWare atau VirtualBox, membuat VM di Proxmox akan sangat mudah.
Performa? Benar-benar mengasikkan. Hardware yang saya pakai i5 2400 series dengan 500GB SATA dan 4GB DDR3. Proxmox sendiri "hanya" menggunakan RAM sekitar 200MB, jadi sisa 3,8GB bisa dialokasikan untuk VM-VMnya. Bottleneck saya rasakan hanya dari harddisk I/O. Selebihnya... :D Recommended lah...
Dispose this... dispose that @ Nokia N97 Mini Service Manual
Beberapa minggu lalu saya sedang blogging di henpon saat shuttlecock Willi nyangkut di kanopi carport. Henpon saya kantongi, panjat dinding carport dan mencutik jatuh shuttlecocknya. Saya lalu melompat turun... dan henponnya mendarat dengan kerasnya di carport.
Well, itu memang bukan yang pertama kali. Ehm... yang pertama di lokasi yang sama, new year eve kemarin. Lalu beberapa kali lagi di tempat lain. Lucunya kejadian itu setelah henpon saya lepas dari shell tambahannya (pertama beli saya pasangi hardcase dari Capdase, tapi kaitnya patah setelah beberapa bulan dipakai).
Entah karena terakumulasi, jatuh kali ini bikin henpon saya byar pet. Casing sih sudah baret sana sini. Baterai juga terkelupas plastiknya di beberapa sisi. Sudah saya tutup dengan isolasi, tapi tetap saja byar pet. Menyebalkan, masuk kantong longgar pun mati. 'Dilempar' ke atas kasur pun mati. Setelah diperiksa, bodi ternyata bisa dipelintir! Dan tentu saja langsung mati. Wah mesti dibongkar nih.

