Bikin PasFoto di Masa Lalu

You have one new private message.

Ya pilihannya cuma itu-itu saja, yang Mbak Idakirei lebih tahu. Yaitu Foto Dewi, Young (nama marga), Lauw (Lawu?), dan Jaya. Yang top ya Dewi. Selain Dewi yang terima panggilan buat motret acara keluarga adalah Hot Pasaribu. Adapun tukang foto keliling yang misuwur adalah Pak Nursin yang selalu naik  motor gede entah Norton entah AJS. Sedangkan Bah Untung, saya lupa-lupa ingat apakah selain berburu pakai senapan dia juga pakai kamera.

Nah, kembali ke Dewi dan lainnya. Dulu foto keluarga orang Salatiga (dan pasfoto) kebanyakan buatan studio-studio itu. Khas bisnis keluarga, yang bisa motret (pakai medium format) dan mengatur lampu studio tak hanya kepala keluarga. Di Dewi misalnya, tante siapa itu bisa melakukan semuanya, termasuk tentu saja kasih aba-aba dari balik kain hitam pengerudung kamera.

Studio-studio itu betul-betul menguasai kamar gelap. Retouch film negatif sampai manipulasi pencetakan (afdruk) mereka kuasai dengan baik. Dogding dan burning menjadi hal biasa -- suatu hal yang sekarang jadi mudah di Photoshop. Jika Anda berumur di atas 35, periksalah film negatif (klise) pasfoto. Pasti sudah terkena sentuhan agar hasil cetakannya bagus.

Nah, yang saya belum tahu adalah untuk hand coloring foto itu siapa ahlinya. Biasanya sih foto-foto tua yang dibegitukan. Saya juga tak tahu dikirim ke manakah penggarapan foto di atas piring. Yang saya tahu, pada awal 70-an ketika film berwarna mulai meluas, studio-studio itu juga mengageni cuci cetak. Tapi film dikirim ke (kalau tak salah) Semarang. Maklumlah, minilab belum lumrah.

Oh ya ada satu studio yang saya lupa namanya, di Jalan Pemotongan (bukan Dewi, bukan Lauw). Pada 1990 saya lihat studio itu masih pakai backdrop klasik lukisan tangan bertema teras rumah loji -- betul, kayak layar latar ketoprak. Tiga tahun kemudian saya ke sana lagi, untuk berfotoria ala jadul, studionya sudah tutup.

Tentu kebutuhan cuci cetak orang Salatiga saat saya kecil dan muda dulu masih terbatas. Mungkin kalau meminta kita bisa memilih jenis kertas dan teknik cetak yang sesuai dengan film kita (dari Orwo sampai Ilford). Di Yogya, kota kedua saya, hal itu bisa saya dapatkan. Makanya saya dulu punya arsip contact print, sebagian di atas kertas hard.

Tentang Dewi, yang saya ingat adalah ini. Di sebelahnya ada gang. Papan namanya rendah bisa bikin kejeduk orang. Set studio mengenal pagar dan pot. Selebihnya adalah khas kehidupan kota kecil: juraan studio tak kenal nama tapi kenal tampang bberapa keluarga yang menjadi pelanggan. :)

Soal lain? Saya mengagumi kerja seni studio-studio itu tapi heran dengan kemampuan matematika mereka. Kalau kita menanya 4 kali 6, atau 2 kali 3, maka jawabannya bukan 16 maupun 6. Maaf. Ini cuma guyon anak sekolah waktu itu. :D

Picture tells thousands of word

Setuju Mas Tyo.
Meski pun cuma selembar pas photo, tetapi sebagai sebuah gambar, dia berujar seribu kata.
Yang disampaikan oleh sebuah gambar bukan hanya 'obyek' yang berhasil direkamnya, namun juga tentang bagaimana gambar itu dibuat pada jamannya.

Membuat pas foto 4x6 di era itu, adalah cerita tersendiri. Kita harus datang, berbaju rapi, membasahi rambut, bersisir kelimis, menahan nafas, jangan berkedip, dan... yakk !! Foto Anda bisa diambil seminggu lagi.

Di jaman serba langsung dan instant ini kita rindu semua itu. Kangen untuk berlama-lama bercakap dengan pemilik toko, mengenali keluarga dan kegemaran-kegemaran mereka.
Kita kini punya berbagai kemudahan dan kebebasan yang justru mengasingkan diri seseorang dari yang lain.

Oh ya, foto 4x6 biasanya dibuat untuk orang yg berbadan normal / ramping. Kalau Anda type "wide-cabin" alias berbadan lebar (seperti Kijang Inova), maka disarankan untuk membuat foto ukuran 6x4 saja.

pasfoto superkilat

saya pernah bikin pasfoto sendiri di rumah bbrp wkt lalu. saya foto anak saya pakai kamera digital saku, lalu saya cetak di inkjet printer, kebetulan masih ada stok kertas foto. nggak perlu keluar rumah wong suadh malam, toko2 pada tutup.