Ijo royo-royo

Ijo royo-royo?... Itulah harapanku tentang kota Salatiga dari tahun ke tahun setiap kali pulang ke Salatiga.  Kapan aku bisa melihat kota Salatiga yang ijo royo-royo seperti masa lalu.

Sepanjang perjalanan dari lapangan Pancasila ke Pasar Sapi sudah tidak ada lagi pohon-pohon besar di sepanjang jalan.  Semua sudah berubah menjadi bangunan2 rumah atau pom bensin.  Dulu masih enak berjalan kaki karena masih ada pohon-pohon besar seperti leci, kelengkeng, bahkan buah kepel.

Saluran air juga sudah mengecil menjadi korban pelebaran jalan.  Padahal masa kecilku sering berjalan disaluran tersebut pada saat kondisinya kering. (bandel ya?..)

Harapan sepertinya tinggal harapan karena lapangan Pancasila saja sudah menciut, entah karena kepentingan apa? yang pasti tidak menyublim karena bukan kapur barus.  Kalau malam dipakai untuk berjualan, apakah memang fungsinya sudah berubah? semua tergantung kebijakan pemda atau siapa ya?

Yang pasti dampaknya kalau lari pagi di Pancasila itu sekarang sudah tidak sehat lagi, karena selain kotor bekas jualan semalam, tidak dapat dihindari bau tidak sedap dari sampah-sampah sehabis jualan. 

Mau lari pagi dimana lagi sekarang?

 

Ijo royo-royo & lestari

Nggih Mas,

Kerindangan wilayah Salatiga, bermula dari keteduhan hati warganya. Kesadaran untuk selalu dekat dengan alam, dan terus (secara bersama) menjaganya.

Soal masih "ijo" maupun "tidak ijo" lagi, tentu tergantung dan kembali kepada perihal keteduhan dan kesadaran itu tadi.

Menjadikan Salatiga menjadi gersang, tentu tindakan keliru. Namun keliru juga pihak yang 'membiarkan' tindakan tsb, tanpa menunjukkan sikap, ucapan, atau pun tindakan untuk mencegah.

Kita ini bukan kaum pendendam. Bukan kah 'mereka' juga saudara kita ?!
Yang sudah ya sudah, mari kita maafkan (setelah mereka akui kesalahannya).

Forum ini mudah-mudahan juga menjadi tempat "grenengan" yang obyektif-faktual. Lebih baik lagi kalau kita bisa menyorot hal-ihwalnya secara multidimensi dari berbagai perspektif. Paling enak, kalau kritik dan koreksi tsb menggunakan guyon (Solotigo-an) sebagai kemasannya.

Perlu usaha yang sungguh-sungguh dan kerjasama yang tulus, kalau kita ingin mengarahkan Salatiga menjadi tempat yang "lain" (lebih baik) dari daerah lainnya.
Mungkin lebih dari sekedar cagar budaya, Salatiga bisa jadi salah satu "kantong peradaban" Indonesia. Tempat sifat-sifat manusia unggul diberi suaka.

Nuwun sewu, kata "ijo royo-royo" dalam tulisan ini artinya lugas / harafiah semata. Tidak ada arti kiasan apa pun. Lha, jaman dekat pemilu begini kan sensitif kalau menyebut warna tertentu. Jadi serba salah.

matur nuwun

matur nuwun mas hendro, mungkin karena saya prihatin aja mas dengan keadaan kota Salatiga...
demi keamanan bersama, kemasan guyonan memang paling enak ya mas?..

Lari pagi

Lari pagi ke kopeng aja Mas Agus.
Kan Togaten gak jauh kalo mau ke kopeng.
Tinggal nyegat ning pasar sapi trus langsung tekan Kopeng. :)

nostalgia..

Mas Joko... tak u..uk... nak kuwi jenenge napak tilas, aku dulu juga sering lari pagi sampai ke salib putih... uenak tenan...

lari pagi

wedeew...
mantep kui mas,lari pagi iso tekan Salib Putih.
yen aku mbiyen seko ngomah jam 5 esuk lari pagi tekan Lap.Pancasila. Trus muleh omahe numpak angkot...
hehehehehe... :D