Ke Manakah Kiblat Kultural Wong Salatiga?

You have one new private message.

Saya menduga, orang Salatiga itu terbelah dua. Kalau bukan ke Sala/Solo/Surakarta ya ke Semarang. Lihat saja dialek dan gaya percakapan orang Salatiga. "Hè'èh", "ngelèh", dan "getèh", tentu lebih dekat ke Semarang. Tapi ada juga yang mengucapkan "he'eh" (e pepet), "ngelih", dan "getih" -- mungkin yang ini lebih dekat ke Sala.

Bagaimana dengan "dudoh" dan "nguyoh" ("o" dibaca seperti dalam "kulon"), selain "duduh" dan "nguyuh"? Saya bingung. Mungkin ini khas Salatiga dan sekitarnya. Dulu Mbok Mah, lengkapnya Patimah, bakul asal Sraten, langganan keluarga saya,  selalu mengucapkan "jawoh", bukan "jawah" (hujan).

Di blog lain saya pernah menulis bahwa dulu (sampai sekarang) orang Salatiga tak akrab dengan istilah "mbanggula" (baca: mbanggulo), istilah yang dipakai oleh orangtua saya ketika pindah ke Salatiga pertengahan 60-an. Di Yogya pun kata itu mulai punah awal 80-an, dan digantikan oleh "permen"; sama dengan yang diucapkan orang Salatiga. 

Juga di blog lain pernah saya tulis, dulu orang Salatiga kurang akrab dengan "ampyang". Nama "gula kacang" (baca: gulo kacang) lebih nyanthèl di benak dan lidah. Tapi sebagian orang yang keluarganya berorientasi ke Sala mengucapkan "ampyang". Mulai awal 80-an, seiring ramainya rute bus Sala-Semarang yang mengangkut pengasong asal Bayolali, kata "ampyang" akhirnya dipakai secara luas oleh orang Salatiga.

Bahasa tak hanya menyangkut pilihan kata berupa nama benda. Bahasa juga mencakup pilihan kata untuk tindakan. Maka sebagian orang Salatiga mengenal kata "slumbat", yaitu mengupas sabut kelapa dengan linggis yang ditegakkan di atas tanah. Orang Yogya lama dan Jawa Tengah selatan akrab dengan "slumbat" maupun "nylumbat".

Kata kerja lain yang bisa diterima oleh orang Salatiga tapi tidak luas pemakaiannya adalah "njagong", yang berarti mendatangi resepsi. Orang Salatiga lebih akrab dengan kata "nyumbang"(karena memang menyumbang), suatu hal yang lazim bagi orang Ambarawa, Ungaran, dan Semarang.

Tentang ungkapan bernada tak percaya dari orang Salatiga, yakni "Ndak iya?" (baca: ndak iyo), itu tak hanya diucapkan oleh orang Semarang dan sekitarnya tetapi juga Magelang.

Adapun "kandhani ok" ("ok" jangan dibaca "oke" maupun "okay"), yang diucapkan oleh orang Salatiga, setahu hanya hanya berlaku di Semarang dan sekitarnya. Orang Magelang tidak, atau jarang, memakainya.

Tapi jika menyangkut " gemblong " , orang Salatiga dan Semarang sangat berbeda. Bagi wong Salatiga itu berarti gethuk singkong tak berbumbu, tapi bagi wong Semarang itu berarti jadah/juadah yang berbahan beras (ketan).

Salatiga ada di tengah. Diapit oleh Surakarta, Semarang, dan Magelang/Kedu. Wajar jika ada percampuran. Tapi manakah pengaruh yang dominan sekarang, saya tidak tahu. Barangkali Anda punya panemu atau pendapat?

Kurang dudoh imbohi uyoh. Weteng ngelèh mangan didèh (=sarèn). Itu guyon yang saya dengar waktu kecil. Agak berbau ledekan juga sih. :D