Salatiga. Naga Hijau. Kenangan. Lalu?
Penyakit orang tua adalah bicara masa lalu. Dulu saya mentertawakannya dan sekarang melakukannya. Buat apa, nostalgia? Ya. Mengerem laju kepikunan? Pasti. Merasa masa lalu lebih baik? Tidak. Eh, maksud saya belum tentu.
Di sini, GuyubABC, saya mendapatkan wadah penuangan dan kebetulan ingat, pun sempat -- hayah, sangat blogombal. Selain soal klangenan, menulis di internet bagi saya adalah mendokumentasikan lamunan yang boleh diketahui khalayak.
Saya tiba-tiba ingat Mak Nin, penjual lotek (orang salatiga dan Semarang melafalkannya "lo-thèk", dengan "t" kental). Mak Nin pernah saya ceritakan di sini. Bukan hanya rasa loteknya tetapi fungsi sosial sebagai perangkum informasi sosial. Dia tahu siapa saja pelanggannya, sampai ke siapa saja keluarganya berikut perjalanan asmaranya.
Suatu hal yang wajar di kota kecil. Di negeri lain pun begitu. Tukang cukur di kota ciut tahu orang-orang di kotanya. Begitu pula seorang kepala stasiun kecil di Amrik, seperti terceritakan dalam film Hachiko: A Dog's Story (Lasse Hallström, 2009). Tak kenal semua orang tapi tahu sebagian orang.
Hidup di kota kecil membuat sebagian warga agak saling tahu -- bedakan dengan saling kenal. Dalam kasus saya, ketika saya SD saya tahu wajah orang-orang tertentu yang sering berpapasan saat saya berangkat dan pulang sekolah, atau rumah mereka saya lewati.
Rute saat SD adalah yang terpanjang. Rumah di Jalan Banyubiru dan kemudian Jalan Andong, sekolah di Jalan Dokter Sumardi. Perjalanan panjang membuat saya lebih banyak bersua orang. Ketika SMP lebih dekat, cukup 17 menit berjalan penuh gegas, dan ketika SMA cukup jalan cepat enam menit dari rumah.
Wajah-wajah yang kerap saya jumpai tak saya kenal namanya. Beberapa rumah yang saya lewati sempat saya ketahui nama pemliknya karena berpapan nama; papan yang kadang bersanding atau bersusun dengan lempeng timah cetak timbul bertuliskan "Awas! Andjing Galak". Iya, ketika EyD mulai diberlakukan pada 1975, masih banyak papan anjing yang berejaan lama.
Apa yang saya dapat dari kota kecil? Banyak. Tapi tak semuanya saya ingat.
Sebagai bocah, kalau saya simpulkan sekarang, saya tahu nama orang-orang dewasa yang menjadi local heroes maupun living legends. Pak Ngadiran, Oom Wim, Bah Untung, Hwa Djay, Djamdjuri, Pak Dipo, Min Kebo, Mbok Nyai, Darsono Kencèt (maaf, nama aslinya kalau tak salah Sri Sudarsono, pernah kuliah di ASRI), No Kadji (bukan haji), dan seterusnya. Sengaja setiap nama tak saya tempeli atribut (dikenal sebagai apa), untuk memeras ingatan kolektif kita. :)
Masih sebagai bocah usia 10 tahun saya sudah tahu nama Pak Samad dari seorang teman karena ketiga kakaknya akrab dengan beliau.;) Dua tahun lalu, melalui e-mail, saya tanyakan soal Pak Samad kepada seseorang asal Salatiga yang dikenal berkiprah di ranah kebudayaan di Jakarta. Dia, yang akrab dengan kultur urban dan apapun yang kontemporer itu, menyebut Pak Samad penuh takzim: "Papi". :D
Setiap kota memiliki babak kehidupannya sendiri, dan setiap babak tak hanya diisi oleh orang-orang resmi yang mewakili negara, sejak kapolres, dandim, danrem, sampai wali kota. Cerita dan sejarah kota tidak hanya dibentuk oleh orang-orang resmi itu. Babad tentang kota juga dibentuk oleh ulama, rohaniwan, saudagar, preman, germo, dan orang gila.
Internet, dengan dukungan mesin pencari dan temboloknya, memberi kesempatan warga setiap kota, dan desa, dan kampung, untuk mencatat perjalanan ruang hidupnya pada sepenggal kurun.
Mampukah GuyubABC melakukannya? Di sini saya cari Ki Ageng Suryomentaram, warga Bringin (Macanan?) yang sumber kawruh itu, dan belum menemukannya.
Masih tentang tokoh, saya punya tambahan contoh. Mungkin tidak Anda kenal, tapi dulu (1969-1970) semua tukang dokar tahu: Nogo Ijo. Itu nama lain Khoo Kong Youw, seorang suhu (sinshe merangkap paranormal, terkenal sebagai penebak lotere [Nalo]), dengan pasien dan klien dari luar kota. Dia tetangga depan rumah saya di Jalan Andong. Kepada tukang dokar, ibu saya cukup bilang, "Ngejengé Nogo Ijo, Pak."
- Rembugane tyo
- Login or register to post comments


Mak Nin
Betul sekali mas Tyo kalau orang tua senang mengenang masa lalu. Mungkin karena masa lalu adalah masa paling indah buat pribadi tersebut.
Saya jajan terakhir di warung lotek Mak Nin kalau nggak salah tahun 1992, setelah puluhan tahun tidak jajan disitu. Yang sangat mengagumkan Mak Nin masih ingat nama saya dan juga nama teman teman saya. Luar biasa!!!
Kalau mas Tyo "doeloe" tinggalnya di jalan Banyubiru, kemungkinan pernah dengar nama pak Juremi (Djuremi) yang tinggalnya di jalan Banyubiru beliau kerjanya jadi polisi tapi yang terkenal sebagai wasit sepak bola. Terima kasih mas Tyo ceritanya tentang Salatiga.
Salam
Sentot
Nebak nama "tokoh" Salatiga Tempo Doeloe
Boleh nebak nama-nama legendaris yang disebutkan Mas Tyo di bawah :
Pak Djamdjuri adalah yang punya tempat pangkas rambut di pojokan jalan kotamadya. Yang namanya "cukur listrik" pertama ya ada di situ.
Bah Untung itu kelihatannya orang Gendongan yang terkenal suka menembak (kelelawar). Seingat saya, dia punya senjata buru jenis shot-gun , dengan peluru gotri bulat-bulat berjumlah banyak. Orang dulu bilang senapan patar-wutah (?).
Kalau Pak Samad (yg dipanggil "papi" ini) apakah memang tokoh dari Alaska (alas karet) alias hutan karet atau lokalisasi ?? (he..he..)
Internet mendekatkan orang yang jaraknya -sangat- jauh. Internet pula memisahkan orang yang -amat- dekat jaraknya (karena pada asyik dgn laptop masing-masing).
Salatiga adalah kota kecil, dengan segala kebesarannya.
Kebesaran Salatiga adalah kemampuannya untuk mengenalkan antar orangnya dan menjaga kerukunan itu secara abadi. Kemampuannya mendapat katrisnan (atau belas kasihan) dari lingkungan hutan, gunung, rawa, sungai, dan kota-kota sekitarnya juga merupakan kebesarannya.
Salatiga itu hangat dan innocent.
Mestinya, kota-kota kecil macam ini lah yang menjadi ibukota Indonesia. Bukan metropolis yang letih, keruh, dan pemberang.
Team website komunitas GuyubABC merasa sangat tersanjung ketika Mas Tyo bilang ,"..Di sini, GuyubABC, saya mendapatkan wadah penuangan dan kebetulan ingat, pun sempat -- hayah, sangat blogombal. Selain soal klangenan, menulis di internet bagi saya adalah mendokumentasikan lamunan yang boleh diketahui khalayak..".
Salaaamm !!!
Baru tahu...
Ah jadi makin kangen pulang.
Walaupun saya tidak kenal nama yang disebutkan diatas, namun saya yakin bapak ibu saya mungkin tahu, ya walaupun tidak semua.hehehe
Maklum saya tinggal dipinggiran kota.
Nanti kalau ada kesempatan pulang tanya ach, sapa tahu bapak ibu dirumah kenal beberapa yang disebut diatas...