Sinoman 3: Lemari Berisi Catatan Piutang di Warung Mbah Blangkon

You have one new private message.

Salah satu hal yang saya ingat dari warung Mbah Parto, tetangga sebelah kiri saya di Jalan Banyubiru, adalah lemarinya. Pintunya penuh coretan dan bekas coretan kapur. Daun pintu dan dinding lemari jati itu menjadi papan tulis pencatat piutang. Si A utang berapa, si B utang berapa.

Mungkin tak banyak jumlah orang yang berutang sehingga papan tulis darurat pun cukup. Tak perlu buku catatan semacam notes cap munyuk. Atau jangan-jangan Mbah Parto memakai kalender sebagai buku catatan, karena kalender lawas milik saya juga mengingatkan saya kepada Mbah Parto?

Tentang warung zaman dulu itu saya ingat beberapa pemasoknya. Antara lain pengendara sepeda dengan kantong goni di boncengannya, isinya botol kecap. Ada botol yang berisi, ada botol yang kosong. Si kecap cap Kuda Terbang (kalau tak salah lho) itu pabriknya di Jalan Progo. Adapun pemasok lain adalah truk kecil Djamu Djago dengan tema warna-warni pengisi pola papan catur.

Waktu itu jaringan distribusi perusahaan belum mengenal mobil boks maupun minibus "berjendela buta" (tanpa kaca) seperti sekarang. Saya tak tahu bagaimana puyer obat mumet dan sirop obat cacing dipasokkan ke warung.

Oh jangan-jangan sebagian besar dagangan diperoleh dengan berkulak ke pecinan? Tiba-tiba saya mencoba mengingat pernahkah Mbah Parto Kakung maupun Mbah Parto Putri berbelanja naik dokar. Sepertinya jarang. Mungkin si Jarwo, bujang mereka, yang berangkat.

Mbah Parto jarang bepergian. Tapi saya ingat, jika bepergian dia mengenakan blangkon Yogyakarta, surjan lurik, dan kain batik. Suatu hal yang seingat saya langka karena orientasi orang Salatiga bukanlah ke Yogya. Kalau bukan ke Semarang ya ke Surakarta.  

Ideologi (daripada) Blangkon

Mas Tyo memang tak pernah gagal memancing respon dan opini.
Saya sudah lama "getem-getem" (geram) mau menulis, tetapi baru kali ini berkesempatan.

Soal Mbah Parto dan blangkon-nya, saya berani menebak bahwa blangkon tsb pakai 'mondholan'. Benda bulat di belakang kepala ini adalah gaya blangkon Jokja. Pasalnya, baju yang dipakai adalah tipe surjan, yang kancingnya ada di tengah.
Kalau bajunya model beskap, yang pakai kancing di pinggir, maka blangkonnya tidak boleh pakai mondholan. Karena ini gaya Solo.
Pokoknya, mondholan itu tidak compatible dengan beskap.
Kalau Wong Solotigo tidak konsisten dengan padanan tsb, bisa kemudian dibilang tidak tahu adat. Minimal akan disindir sebagai saltum (SALah kosTUM).

Namun ada resikonya juga kalau wong Solotigo selalu taat (compliant) kepada aturan itu. Kalau pakai beskap, lalu terasa 'sumuk' (gerah) di daerah pesisir, karena kancingnya di samping. Kalau pakai mondholan, tentu Anda harus selalu tidur tengkurap. Mondholan akan mengganjal kepala Anda jika berbaring telentang (he..he..).

Itu tadi mengenai pakaian sehari-hari. Tentang adibusana ("haute couture"), ternyata definisi Jokja dan Solo hampir sama. Yakni bahwa status ber-adibusana ini tercapai ketika orang berada dalam kondisi tanpa busana.
Kostum 'dodot' (?) bagi pria, yang melambangkan "pakaian" raja, justru bukan surjan atau pun beskap. Orangnya malah harus telanjang dada, dengan resiko masuk angin. Ini tentu juga merepotkan pria-pria bertatto atau pun mereka yang berdada kerempeng, jadi tidak fashionable.

Baru dalam urusan topi dan bajunya, Wong Solotigo sudah terikat aturan ini-itu dan terancam dibilang saltum. Dan kita ini lalu sibuk membuat asosiasi-asosiasi dengan standar-standar peradaban & keningratan. Kita juga bingung membuat identitas budaya, kita ini "Solo" atau kah "Jokja" ??

Nasib kita memang belum separah banyak saudara di Cilacap, Tegal, Banyumas. Baru bicara saja, mereka sudah dianggap "lucu" dan pantas dijadikan bahan panggung lawakan. Karena sehari-hari mereka bicara seperti itu, maka lalu disebut orang "aneh" dari generasi ke generasi.
Siapa yang rela disebut lucu dan aneh, hanya karena menggunakan bahasa ibunya ?!

Yang dianggap beda, bukan cuma "orang barat", tetapi juga mereka dari daerah timur. Mereka sering dinilai 'kasar' bahasanya atau berperilaku kurang sopan. Lho, bukan kah setiap kata punya makna yang independen ? Lho, bukan kah kesopanan itu relatif antar komunitas ?

Kembali soal blangkon, Sujewo Tejo (si dalang mbeling) memberontak. Dalam tiap show, dia pakai 'udheng' (ikat kepala) tidak memakai blangkon. Udheng itu tanda khas Jawa Timur dan dengan udheng tidak perlu berpolemik pro-kontra mondholan.
Lebih dari urusan udheng, Tejo juga membiarkan para wayangnya punya pendapat sendiri-sendiri, yang bisa jadi melenceng dari pakem. Dan sebagai dalang, dia sempatkan diskusi dengan para wayang. Dia juga siap berantem dengan wayangnya, untuk menunjukkan "who is the boss".

Pada jaman yang lebih maju ini, muncul lah konsep JOGya soLO SEMARang (joglosemar). Ketiga kota itu dianggap "faktor dominan" dalam kebudayaan (& perekonomian) Jawa.
Dan untuk ke sekian kalinya, Wong Solotigo terjepit dan minder dalam identitas itu. Wong Banyumas terpinggirkan. Arek Suroboyo masih dianggap peradabannya belum komplit.

Apakah betul faktor dominan itu memang ada ? Apakah itu ditandai oleh bangunan fisik yang (dulu) megah ? Apakah itu cukup diawaki oleh orang yang (hanya) cakap memakai istilah "ndakik-ndakik" (fancy) dan gemar berpepatah- petitih ?.

Lebih baik, kita kembali kepada arsitektur elementer pada masing-masing pribadi. Mempertemukan motif-motif hidup (persahabatan, kekuasaan, prestasi) dengan potensi kecerdasan manusia yang (kata Gardner) ada delapan macam itu.

"The world is flat", Friedman bilang tentang internet. Memang, hampir saja.
Lepas dari paradigma lama dan segala tahayul-nya, kita punya peluang sangat besar untuk saling kenal dan lalu baku menguatkan.

Di sini, di Guyub_ABC.

Mantep tenan

mas hendro itu kalau menulis kok mantep tenan hehehe.. segala aspek dadi nyambung.. top markotob lah..

AS

pancen

mas hendro pancen top markotop.
sejak dulu. :D

Posting tersendiri

Lha komentar yang bernas itu sudah merupakan posting tersendiri. Sayang kalau cuma jadi komentar. :D