Taksi, Salon, Floris, Piringan Hitam – dan Alaska
Inilah contoh "modernitas" (hahaha) untuk Salatiga yang cuma sembilan kelurahan, pada akhir 60-an sampai awal 70-an. Kota kita itu punya taksi, salon, floris, dan toko piringan hitam. Mari kita urutkan...
Taksi? Begitulah sebutannya. Itu adalah mobil-mobil pelat hitam, berupa sedan njembluk (misalnya Desoto dan Plymouth) untuk dicarter ke luar kota. Mereka mangkal di depan salon Mimosa. Lokasinya di sebelah terminal bus bergaya art deco yang kemudian menjadi "shopping center" kumuh itu.
Nah, salon (lengkapnya beauty salon) itu juga termasuk barang modern untuk Salatiga. Dulu orang mengartikan salon sebagai boks spiker. Salon kecantikan itu ada dua yang menjadi pelopor (seingat saya), yaitu Mimosa dan Wanda (Jalan Kotamadya atau Jalan Sukowati), diapit oleh apotek Itrasal dan kelenteng. Mimosa punya anak lelaki, namanya Jie Ie. Wanda juga punya anak laki, kalau tak salah bernama Sioe Liong.
Taksi sudah (nanti ada lanjutannya di bawah). Salon sudah. Lantas? Floris. Satu-satunya floris di Salatiga (waktu itu) adalah Hyacinth, di Jalan Solo (Sudirman). Warga saat itu sudah terbiasa mengirim karangan bunga ("krans"), terutama untuk ucapan selamat dan duka cita.
Kemudian inilah simbol modernitas lainnya di Salatiga: Istana Nada. Ini nama toko piringan hitam (dan kemudian kaset) di Jalan Sudirman. Tokonya tak pernah ramai, maklumlah pelanggannya sedikit karena pemilik turn table juga tak banyak. Toko yang lokasinya kemudian menjadi apotek Wahid ini menyediakan musik pop (Heintje, Tom Jones, Bee Gees) sampai rock[n' roll] (Beatles, Deep Purple, Black Sabbath, Led Zeppelin, Grand Funk Railroad).
Itulah sisa kenangan lama Salatiga. Kemudian Mitsubishi Colt bersimaharajalela menjadi angkutan antarkota, disusul oleh pikap Honda dan Daihatsu (orang bilang "Honda mini") sebagai angkuatan dari pinggiran ke kota. Taksi tadi lenyap, dikalahkan oleh Colt carteran yang lebih hemat bensin.
Tentang musik, jelas sudah bahwa maraknya kaset dan VCD bajakan (juga CD kompilasi MP3) di kaki lima menjadikan konsumsi hiburan kian merakyat. Bukan zamannya lagi toko sepi ala Istana Nada (tapi toko kaset/CD Waringin masih bertahan).
Adapun floris, saya tak tahu berapa jumlahnya sekarang di Salatiga. Hyacinth pun tampaknya sudah lama tamat. Salon? Saya tak tahu berapa jumlahnya, karena di setiap kampung ada.
Tentang taksi, sebetulnya ada dua macam, dan lokasi mangkalnya berbeda. Yang pertama dekat Mimosa tadi. Yang kedua di seberangnya. Beberapa kali saya melihat orang masuk ke taksi ini dengan terburu-buru – biasanya mereka berkelompok, bukan orang yang ngeluyur sendirian.
Taksi jenis ini hanya melayani rute Kota - Sembir (Alaska, "alas karet") vice versa. Maklumlah waktu itu tak semua orang punya sepeda motor. :D
- Rembugane tyo
- Login or register to post comments


Lengkap dengan Universitas dan Pabrik
Kalau Damatex tahun berapa ya? Juga UKSW? Dengan adanya pabrik dan kampus, salatiga terhitung lengkap sebagai kota yang seharusnya mandiri.. Terakhir kalau nggak salah ada mega rubber.. pabrik ban.
Damatex & UKSW
Daya Manunggal Tekstil sekitar 1969, milik grupnya The Nin King dan Musa -- mungkin join dengan Jepang. Kalau UKSW dulunya PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru), berdiri 1956. Kampusnya dulu ada yang di Gedung Sinode GKJ Jalan Dokter Sumardi 5.
Damatex & UKSW
Leres Mas Tyo..
Daya Manunggal Textile (Damatex) memang kemudian disusul oleh adiknya : Tiga Manunggal Textile (Timatex). Kedua pabrik tsb kini berada di tepi Jl Sudirman. Dulunya ketika masih kecil, Damatex lebih masuk ke dalam. Dia ada di Jl. Argo Busono, sebuah jalan desa.
Kelihatannya, pabrik Damatex berdiri di tahap awal The Nin King membangun kerajaan textilenya, atau mungkin malah merupakan pabrik pertamanya.
Jalan Argo Busono dan Damatex-nya mungkin dianggap membawa 'hoki' kepada grup tsb. Tak heran jika kemudian grup besar ini memakai istilah Argo Pantes atau Argo Manunggal sebagai identitasnya.
Kalau saya tak salah ingat, posisi pimpinan puncak grup ini pun biasanya dipegang oleh pejabat yang sebelumnya pernah bertugas di Salatiga.
Memang nama jalan-jalan di desa Ledok selalu diawali dengan Argo yang berarti gunung. Maklum, saat itu merupakan desa dengan elevasi tertinggi di Salatiga.
Tak hanya The Nin King yang menyemat nama jalan menjadi identitas bisnisnya. Pengembang perumahan pun kemudian menggunakan nama Argo Mas untuk kompleks yang dibangunnya. Kompleks ini terletak di jalan Argo Boga yang secara literal artinya adalah Gunung (sumber) Makanan.
Demikian lah tentang nama-nama. Di dalamnya terdapat kenangan, pula harapan.
mega rubber
denger2 terakhir pas pulang salatiga mega rubber dah mo tutup?
Mega Rubber
Kalo yang ini saya malah gak begitu ngeh. Kalo gak salah sih semacam cabang pabrik dari Semarang. Gaktahu nasibnya sekarang setelah ada PHK 2006.
damatex & uksw
damatex sekitar 1969
uksw sejak ptpg th 56