Ternyata Saya tak Begitu Mengenal Salatiga
Ya, saya kelahiran Salatiga, 49 tahun lalu. Ingatan mulai memudar. Maka ketika melihat peta Salatiga ada dua hal utama yang dapat saya kabarkan. Pertama: ingatan saya tentang nama tempat terpulihkan. Kedua: ada saja nama tempat yang baru saya ketahui.
Tentang nama geografis lokal, pengetahuan saya meningkat waktu SMP. Banyak teman yang berasal dari pinggir kota, dan dari mereka pula saya mengenal nama wilayah Butuh, Ngaglik, Randuacir, Polobogo, Sumogawe, Randuares, Ujung, Geyer, dan lainnya.Teman-teman yang tabah dan kuat, karena sebagian berangkat-pulang sekolah dengan berjalan kaki.
Sekolah menjadi tempat saya mengenal wilayah -- tepatnya nama beberapa kawasan, tanpa mengunjunginya. Waktu SD, di SD Kristen II (kemudian menjadi SD Lab), Jalan Dokter Sumardi, saya mengenal nama kampung-kampung dari teman. Misalnya Turusan, Sumopuro, Bugel, Domas, Karangduwet, dan Karangpete.
Dengan bersekolah, pengenalan geografis lokal bertambah karena berkaitan dengan tempat tinggal teman-teman. Sebelumnya pengenalan geografis saya hanya dari kusir dokar (paling banyak menjawab dari Bener), para bakul yang datang ke rumah (Jombor, Bringin), dan tentu bapak saya yang kadang mengajak pergi "jauh" (misalnya ke Kayuwangi).
Keterbatasan pengetahuan itu saya pikir karena Salatiga pada tahun 70-an tak punya koran. Pernah sih ada, tapi hanya sebentar. Kalau tak salah namanya Ganesha. Tanpa koran lokal orang yang hanya di rumah takkan tahu dunia luar. Untungnya saya suka dolan, ngeluyur, dan menanggap orang bercerita, sehingga pengetahuan saya relatif lebih maju ketimbang anak-anak rumahan yang rajin tidur siang.
Meskipun begitu ada hal yang saya baru tahu, terutama barusan, setelah melihat peta Salatiga 1940 (dari blog Andi Widhibrata). Saya tahu Jetis, tapi tidak tahu ada Kali Jetis -- saya hanya tahu Kali Ngipik di Sinoman (tak jauih dari Jetis), tempat tinggal pertama setelah pindah dari Yogya pada 1964.
Dari peta itu pula saya tahu ada Kali Kedawung dan Kali Bojo. tentang Kedawung, setahu saya itu dekat Kali Sumbo. Tapi saya tak tahu nama-nama kali, dan setelah Kali Ngipik yang saya tahu adalah Kali Nongko, dekat rumah saya yang kedua di Jalan Andong (Osa Malliki), setelah pindah dari Jalan Banyubiru (Imam Bonjol, Sinoman), 1969.
Meskipun saya tahu bahwa di Salatiga terdapat banyak kali, termasuk kali kecil. Itu sebabnya rencana jalan lingkar (Proyek Walkot 1970-an) tak segera direalisasikan karena biaya terbesar adalah pembuatan jembatan, bukan jalan. Saya, sebagai bocah, mengetahuinya dari seorang geografer yang terlibat dalam studi kelayakan.
Warga Salatiga sebaya saya, yang sejak lahir hingga kini masih bermukim di Salatiga, tentu lebih lengkap pengetahuan geografis lokalnya. Selau terbarui. Jadi bisa saja mereka tertawa geli bahkan melecehkan saya karena kurang mengenal kota sendiri.
Kelucuan itu akan bertambah setelah saya sebutkan nama kampung saya di Jalan Osa Maliki, yang ternyata selama saya tinggal di Salatiga kurang dikenal: Pengilon. :D
- Rembugane tyo
- Login or register to post comments


Mengenal Solotigo
Membaca petanya adalah awal yang baik untuk mendapatkan orientasi spatial.
Lantas, bisa berjalan kaki sendiri berkeliling melihat berbagai "keanekaragaman hayati" yang ada di Solotigo (termasuk orang-orangnya).
Pada sumbu waktu, kita bisa melihat catatan-catatan lama.
Saya baru terima buku Galeria Salatiga (ISBN: 978-979-729-0467) yang diramu oleh Mas Eddy Supangkat.
Sedari awal, penerbitnya (& Mas Eddy_S) sudah bikin statement ,"The Publisher has made every effort to comply with all copyright issues. However, if a third party might feel that its copyright has been violated, please contact the publisher".
Ada hampir duaratus halaman yang bisa dibolak-balik. Penuh dengan gambar-gambar yg nostalgis, legendaris, dan sekaligus mengejek jaman kita sendiri.
De schoonste stad van midden Java (terjemahane opo yo ?!) memang sangat memikat di masanya. Dengan segala modernitas gaya hidup, teknologi "tinggi", dan ketertibannya. Bertabur hartawan, pesohor, pembesar, dan ilmuwan.
Tanpa kehilangan greget teatrikal, Mas Eddy (terpaksa) pakai kertas tanpa warna.
Lha wong foto-foto nostalgia ini memang hitam-putih saja kok.
Yang di atas tadi namanya komentar, terlalu agung kalau dianggap 'resensi' buku.
Mungkin "Galeria Kedua" bisa dibuat berwarna-warni, hasil sumbangan jepretan dari kawan-kawan semua. Toh, jaman tak pernah kehilangan pesona, tergantung dari sudut mana kita memandang dan merekamnya.
Kali ini adalah tentang masa kini (& nanti). Tanpa takut dituduh "kumalondo", zonder dituding berlagak kebelanda-belandaan.
Tabik !!
Solotigo Panas
Banyak yang berubah dari Solotigo
Tata kota yang menurut saya semrawut
Jl.Jendsud disulap jadi jalan searah yang menurut saya ingin meniru Jl.Malioboro dijogja tapi malah jadi semrawut karena ketidak teraturan parkir dan pedagang sepanjang jalan Jendsud.
Banyak pohon hijau tumbang.
Menurut saya sekarang Solotigo malah jadi kota ruko karena banyak tanah kosong yang dulu bisa tumbuh rindang pepohonan disulap jadi ruko2...
Solotigo jadi tambah panas karena berkurangnya pepohonan hijau.
Sekali lagi ini menurut saya pribadi...
Salam,
Joko Prasetyo
Solotigo Panas (& Macet ?)
Seperti kota-kota Indonesia lainnya yang tumbuh secara 'organik' (liar, tidak terencana) maka Solotigo pun mengalami nasib yang (kurang-lebih) sama.
Prasarana jalan dan selokan menjadi kurang, sebagai akibat dari penumpukan aktivitas pada hanya lokasi yang itu-itu juga. Memang biasanya ada orang-nya dulu, barulah kemudian dibikinkan jalan dan selokan (meskipun jumlahnya terlalu sedikit dan sudah sangat terlambat). Prasarana tidak dibangun agar / sebelum orang datang ke lokasi tsb.
Namun, saya kira ada secercah harapan dengan dibuatnya Jalan Lingkar Luar Solotigo (SORR) dan jalan tol JogLoSemar.
Salatiga akan 'sepi' jadinya. Kecerdasan kita lah yang akan bisa memanfaatkan sepi-nya Salatiga.
Dalam kesepian ini pula lah nanti mungkin kita berkesempatan menumbuhkan kembali pepohonan rindang yang kita rindukan.
Salatiga Sepi ?
Intensitas lalu lalang kendaraan di dalam kota memang akan berkurang saat Jalan lingkar luar sudah dioperasikan sekarang. Membuat kota kembali tenang (sepi), ya walaupun akan berpengaruh terhadap pemasukan pelaku ekonomi didalam kota.
Kurangnya kepekaan akan daerah2 yang punya potensi wisata masih berlanjut. Prasarana jalan sebagai akses ke daerah tersebut kurang mendapat perhatian.
Padahal nanti akan bisa menjadi nilai tambah kota.
Orang2 tak melulu datang ke Salatiga untuk menikmati kulinernya, tapi mereka juga datang untuk menikmati yang lain.
Potensi sejarah diSalatiga juga terhitung lumayan. Banyaknya bangunan jaman dahulu di Salatiga sebagai salah satu buktinya. Sayang keadaanya kurang dijaga dan banyak juga yang sudah hancur dah beralih fungsi.
Dari beberapa teman di Jakarta yang interest terhadap sejarah, saya pernah diceritakan tentang beberapa bangunan tua di Salatiga. Dan ternyata masih banyak juga yang belum tahu termasuk saya pribadi. Malu memang, tapi saya bersyukur. Kenapa? karena saya jadi diingatkan tentang asal saya.
Dan saya yakin masih banyak potensi lain dari Salatiga yang belum banyak terungkap ke khalayak ramai termasuk bangunan2 bersejarah di Salatiga.